• Fredy besok ultah ke-25
  • 5 hari lg aldi ultah ke-22
  • 5 hari lg valent ultah ke-26
Anggota Online
No Users Online
Online web ini
Yg punya masalah login, dapat berkomentar disini
Main Menu
Home
Artikel
MBI
WBI
Majalah SAKYA
Buku Tamu
Forum Sakyers
Gallery
Website Sahabat
Login di sini
Admin Support

STATISTIK KEBAKTIAN

Jumlah Umat Kebaktian 15 Maret  2009
SD : 155 orang
SMP : 75 orang
Umum : 135 orang

KUNJUNGAN
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini117
mod_vvisit_counterKemarin131
mod_vvisit_counterMinggu ini248
mod_vvisit_counterBulan ini1682
mod_vvisit_counterAll128191
Sindikasi
Home
Home
Jarangnya Kemunculan Seorang Buddha Print E-mail
User Rating: / 0
 
on 28-09-2009 12:24

Views : 122    

Jarangnya Kemunculan Seorang Buddha

 

Anàthapiõóika—seorang hartawan yang kelak menyumbangkan Vihàra Jetavana—dalam suatu kunjungannya ke Ràjagaha, ketika ia bertemu dengan Buddha untuk pertama kalinya, mendengar kata “Buddha” dari saudara iparnya yang juga kaya raya di Ràjagaha. Begitu ia mendengar kata “Buddha,” ia berseru, “Ghoso’pi kho eso gahapati dullabho lokasmiÿ yadidaÿ ‘buddho buddho’ ti”, artinya “Teman, jarang sekali mendengar kata ‘Buddha, Buddha’ di dunia ini.”
Ketika Buddha berdiam di Kota âpana di Negeri Aïguttaràpa, seorang guru brahmana bernama Sela, mendengar kata “Buddha” dari Keniya—petapa berambut kasar. Begitu ia mendengar kata “Buddha” ia berpikir, “ghoso ‘pi kho eso dullabho lokasmiÿ yadidaÿ ‘buddho buddho’ ti’“, artinya, “Jarang sekali mendengar kata ‘Buddha, Buddha’ di dunia ini.” Tidak lama kemudian, ia bersama tiga ratus pengikutnya, menjadi ehi-bhikkhu dan tujuh hari kemudian mereka mencapai tingkat kesucian Arahatta.
Dari kutipan ini, sebenarnya sangatlah jarang dan sulit dapat mendengar kata “Buddha, Buddha” dan lebih jarang lagi munculnya seorang Buddha.
 

Komentar Pengguna Ambil Kode HTML Artikel ini Print Send to friend Baca Selengkapnya
Indasamanagotta Jataka Print E-mail
User Rating: / 1
 
on 19-09-2009 10:32

Views : 130    

Indasamanagotta Jataka

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru saat berdiam di Jetavana, tentang seorang yang keras kepala; dan perihal itu akan ditemukan di Kelahiran Nazar1 , pada Buku Kesembilan. Sang Guru berkata kepada Saudara ini-" Pada masa yang lampau, seperti kini, kamu terinjak-injak sampai mati oleh gajah yang gila karena kamu begitu keras kepala dan ceroboh terhadap nasihat para orang bijak." Dan Beliau menceritakan kisah lampau itu.

Dahulu kala, saat Brahmadatta menjadi raja di Benares, sang Bodhisattva lahir di keluarga brahmana. Ketika dewasa ia meninggalkan rumah duniawi dan mengambil hidup yang religius, dan kemudian menjadi pemimpin kumpulan dari lima ratusan pertapa, yang hidup bersama di kawasan Himalaya.

 

Di antara para pertapa ini ada seorang keras kepala dan tak terajarkan bernama Insasamanagotta. Ia mempunyai gajah peliharaan. Sang Bodhisattva memanggilnya setelah tahu hal ini, dan bertanya jika dia sungguh mengasuh seekor gajah muda ? Ya, kata pria itu, ia punya gajah yang telah kehilangan induknya. "Baiklah," Sang Bodhisattva berkata, "Saat beberapa gajah dewasa mereka membunuh siapa pun termasuk pemeliharanya; jadi kamu sebaiknya jangan mengasuhnya lagi." "Tapi saya tak bisa hidup tanpa ia, Guruku!" begitu jawabnya. "Oh, baiklah," kata Sang Bodhisattva, "kamu akan menyesalinya." Begitulah ia masih mengasuh hewan itu, dan lama kelamaan ia tumbuh besar menjadi raksasa.

 

Komentar Pengguna Ambil Kode HTML Artikel ini Print Send to friend Baca Selengkapnya
Tsunami Dalam Sudut Pandang Buddhis Print E-mail
User Rating: / 0
 
on 16-09-2009 09:47

Views : 159    

TSUNAMI

Dalam Sudut Pandang Buddhis

 Ven. S. Dhammika

 
 

Buddhisme mengajarkan mengenai penyebab, bahwa seluruh alam semesta merupakan jaringan sebab akibat yang saling berhubungan. Ada dua jenis dari penyebab -- penyebab alami dan penyebab moral. Penyebab alami tidak ada kaitannya dengan prilaku baik atau buruk manusia, ia hanya merupakan beragam kekuatan di alam semesta yang bekerja satu sama yang lain. Hujan badai ataupun tanaman yang masak, merupakan contoh dari penyebab alami. Penyebab alami tentu saja dapat mempengaruhi kita -- terjebak dalam hujan badai dapat membuat kita pilek. Tetapi menderita karena pilek tidak ada hubungannya dengan perbuatan baik maupun tidak baik pada masa lampau -- Ini merupakan efek alami dari sebuah sebab alami.  

Penyebab moral adalah mengenai bagaimana manusia berpikir, berbicara dan berbuat dan apa yang mereka rasakan sebagai hasilnya. Ajaran Sang Buddha mengenai Kamma hanya menitikberatkan pada penyebab moral. Menjadi penolong bagi seseorang, mendapatkan ucapan terima kasih dari mereka dan merasakan kebahagiaan karenanya; mencuri sesuatu, tertangkap dan akhirnya mengalami hal yang memalukan, ini merupakan contoh dari penyebab moral. Kebahagiaan atau ketidaknyamanan seseorang merupakan hasil langsung dari bagaimana seseorang telah bertindak. Seseorang tidaklah sedang mendapatkan `imbalan` ataupun `hukuman` atas perbuatan-perbuatan mereka, kebahagiaan atau ketidaknyamanan mereka hanyalah merupakan hasil dari perbuatan-perbuatan mereka. Sekarang marilah kita melihat pada peristiwa tsunami baru-baru ini dari sudut pandang ajaran tentang Kamma.


Komentar Pengguna Ambil Kode HTML Artikel ini Print Send to friend Baca Selengkapnya
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 Next > End >>

Results 1 - 11 of 58
Renungan Harian
Sebagian besar orang tidak mengetahui bahwa dalam pertengkaran mereka akan binasa; tetapi mereka yang dapat menyadari kebenaran ini akan segera mengakhiri semua pertengkaran (Yamaka Vagga 1:6)
Events Sakyakirti
No events
« < February 2010 > »
S M T W T F S
31 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 1 2 3 4 5 6
 

Warning: fopen(/home/sloki/user/h68544/sites/sakyakirti.com/www/components/com_sef/cache/shCacheContent.php) [function.fopen]: failed to open stream: Permission denied in /home/sloki/user/h68544/sites/sakyakirti.com/www/components/com_sef/shCache.php on line 106